Selasa, 11 Februari 2014

( KISAH ) BERSYUKUR KEPADA ALLAH SWT TANPA BATASAN

( KISAH ) BERSYUKUR KEPADA ALLAH SWT TANPA BATASAN

Ada seorang sahabat Ibnu Abbas ra. yang bernama Abu Qalabah al-Jurmiy. Abu Qalabah adalah seorang pria tanpa tangan dan kaki. Selain itu, dia juga tuli, buta dan seluruh anggota tubuh lainnya tidak berfungsi secara normal. Hanya mulutnya saja yang dapat berfungsi secara normal. Suatu ketika, Abdullah bin Muhammad mendengar Abu Qalabah berujar, “Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku jalan untuk selalu memuji-Mu sebagai ungkapan rasa syukurku atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau limpahkan kepadaku.”

Seseorang yang tidak memiliki tangan dan kaki, lalu dia juga tuli, buta dan seluruh anggota tubuh lainnya tidak berfungsi dapat berdoa seperti ini. Mungkin orang yang mendengar akan terkejut.Terkejut dengan ungkapan, “sebagai ungkapan rasa syukurku atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau limpahkan kepadaku.” Bisa jadi orang itu akan bertanya, “Nikmat apa yang telah dia terima?”

Abdullah bin Muhammad adalah orang yang mendengar doa dari Abu Qalabah ini. Dia pun merasa heran dan bertanya, “Aku baru saja mendengar doamu tadi. Tapi, yang membuatku heran adalah nikmat apakah yang telah dianugerahkan Allah kepadamu hingga engkau harus memuji-Nya? Anugerah apa pula yang engkau hendak bersyukur kepada-Nya?”

Abu Qalabah menjawab, “Memangnya ada yang aneh dengan apa yang diperbuat oleh Tuhanku? Sungguh meskipun Allah mengutus langit agar menurunkan sebuah bara api untuk membakarku, memerintahkan gunung untuk membinasakanku, menyuruh lautan untuk menenggelamkanku dan menyuruh bumi untuk menelanku, niscaya aku akan semakin menambah rasa syukurku kepada-Nya, atas nikmat yang telah diberikan-Nya kepadaku, yaitu mulutku ini.” (dikutip dari buku Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Sebenarnya ada satu nikmat lagi yang dimiliki Abu Qalabah selain mulutnya. Yaitu dia bisa berkomunikasi dengan orang lain, walau telinganya tuli dan matanya buta.

Coba bayangkan… bagaimana mungkin seseorang bisa mendengar percakapan atau ucapan orang lain, kalau dia tuli. Mungkin orang tersebut akan menjawab, bisa dengan bahasa isyarat tangan. Bisa juga, dia membaca dari mulut orang yang berbicara. Tapi bagaimana mungkin dia dapat melihat isyarat tangan,bagaimana bisa dia membaca mulut orang lain, kalau dia buta?

Tapi itulah yang tertulis dalam buku. Kekurangan dan cobaan yang diterimanya dijadikan sarana untuk mengumpulkan pundi-pundi keutamaan demi ridha Allah.

Kisah Abu Qalabah telah mencontohkan sikap sabar. Dan hal ini membuat mereka menjadi sosok yang bersyukur. Karena mereka tidak lagi memikirkan, memberatkan hati dan pikiran dengan bencana, musibah atau cobaan yang menimpa. Akan tetapi mereka terima dengan ikhlas dan lapang dada musibah dan cobaan yang menimpa.

Kondisi inilah yang membuat mata terbuka dan dapat melihat karunia dan nikmat Allah yang lain, yang jumlahnya lebih banyak dari musibah yang menimpanya.

Semoga saudara-saudara kita yang ditimpa musibah banjir, tanah longsor dan letusan gunung merapi dapat bersabar. Dapat menerima semuanya ini dengan lapang dada dan ikhlas, sehingga membuat mereka dapat bersyukur.

Sehingga mereka yang terendam banjir akan dapat melihat nikmat Allah yang lain, yang jumlahnya lebih banyak dari musibah yang menimpanya. Mereka akan bersyukur karena masih dapat menghirup udara. Mereka bersyukur dapat tinggal di penampungan dan rumahnya masih ada. Mereka, insya Allah akan bersyukur ternyata banjir yang menimpa mereka tidak sedahsyat banjir yang menimpa kaum nabi Nuh. Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar